Gw kemaren diajak Abi makan malam di daerah Blower, belakang lapangan Blang Padang. Lapangan ini adalah lapangan di mana di depannya ada replika pesawat pertama RI sumbangan masyarakat Aceh. Di situ ketemu banyak orang dan temen baru. Menarik, terutama pas maen kartu dan orang yang pernah gw bacain fengshuinya gw suruh pindah, karena di posisi dia saat itu dia selalu kalah karena dia berada di hadapan unsurnya. Sementara unsur dia adalah Api Yin. Setelah pindah posisi dia menang.
Dari situ satu calon pasien muncul. Minta gw bacain fengshui dan gw baca aura dia. Ada satu hal yang pop-up dari auranya dan itu gw bacain ke dia. Agak stunned juga dia dan minta besok diterusin.
Kemudian tadi pagi meeting konsolidasi tim dan bagi-bagi tugas buat presentasi desain hari Jumat. Siangnya ktemu orang yg gw janji akan gw bacain fengshuinya. Trus kita ke kantin, dan di sana ada temennya juga yang ternyata juga menarik. Unsurnya kuat banget, serta karakternya juga kuat banget. Kita janjian makan malam dan mereka mau jemput gw untuk bahas lebih dalem.
Pas jam 8:00 gw dijemput dan kita lanjutkan pembahasan di KFC Ketapang.
Di pembahasan lebih mendalam ini gw beneran jadi penasehat spiritual. Jadi gw kasih beberapa sudut pandang tentang apa dan bagaimana kita menghadapi hidup. Mereka sih sudah sampai pada pemahaman bahwa agama itu cuma ritual aja. Jadi you are not supposed to stick to one religion. GOD IS TOO BIG TO FIT IN ONE RELIGION ALONE. Jadi apa pun namanya: Elohim, Eli, Sang Hayang Widhi atau Allah, kita tetap menuju sumber utama kehidupan, apa pun namanya itu. Cuma agama saja yang bikin orang jadi terpaku pada ritualitas yang tidak menuju ke mana-mana tapi hanya ke seremoni belaka. Pemahaman pada agama yang hanya seremoni belaka yang bikin fanatisme buta agama dan memicu terorisme. Udah gitu biasanya pada ngelak dan bilang ajaran agama itu yang menimbulkan terorisme. Well, kalo agama tidak menimbulkan terorisme, kenapa para teroris itu mengatasnamakan agama? Pertanyaan simpel aja sih.
Jadi apa kita perlu agama?
Buat orang yang pemahaman dirinya masih dangkal, mereka perlu agama. Agama diperlukan jika lo masih perlu apa yang disebut hati nurani (conscience). Jadi lo merasa perlu membedakan benar/salah. Walaupun benar-salah (right-wrong) itu cuma ilusi. Soalnya kaki dan tangan kita adanya right-left, gak ada right-wrong foot. Semua keputusan yang kita ambil memberikan konsekuensi pada kita, terserah kita berani dan mau menerima konsekuensi itu atau tidak. Jadi kalo lo masih mau menerima konsep benar-salah dan hati nurani, berarti lo masih perlu agama. Kalo lo merasa tidak perlu agama, berarti lo sampai pada taraf kesadaran (consciousness). Di sini lo berada pada taraf mumpuni untuk menentukan piilhan dan menyadari setiap pilihan yang lo ambil akan berdampak pada diri lo dan orang lain. Nah, kalo udah sampai pada taraf kesadaran itu, buang deh agama. Lo udah punya jalur langsung ke Tuhan dan pemahaman atas diri yang mumpuni. Agama itu cuma alat politik kok, terutama institutionalized religion…
Amitabha, shalom…